Di Balik Bersihnya Desa Grantung, Lima Relawan TPS3R Bertahan dengan Upah Tak Pasti, Tungku Rusak dan Harapan pada Kepedulian Pemerintah

perubahan perilaku masyarakat mulai terlihat setelah pengelolaan sampah dilakukan secara konsisten selama beberapa tahun terakhir

REALINVESTIGASI.COM, PURBALINGGA – Di balik lingkungan Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga yang kini semakin bersih dari sampah liar, terdapat perjuangan lima relawan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang sejak 2020 konsisten mengelola sampah warga. Mereka tetap bekerja setiap hari meski menghadapi keterbatasan fasilitas, upah yang tidak menentu, hingga harus mengeluarkan biaya pribadi demi menjaga operasional.

TPS3R Desa Grantung dikelola oleh mantan Kepala Dusun IV, Sumanto, bersama empat relawan lainnya. Setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB, mereka mengumpulkan, memilah, mengolah, hingga memusnahkan sampah rumah tangga yang berasal dari warga desa.

Meski penghasilan yang diterima jauh dari kata layak dan pembayaran operasional sering terlambat, kegiatan pengangkutan sampah tetap berjalan. Kondisi tersebut dinilai menjadi bentuk komitmen para relawan dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi pencemaran akibat sampah.

Lingkungan Desa Berubah Lebih Bersih

Menurut Sumanto, perubahan perilaku masyarakat mulai terlihat setelah pengelolaan sampah dilakukan secara konsisten selama beberapa tahun terakhir. Sampah yang sebelumnya banyak ditemukan di sungai, pekarangan maupun tepi jalan kini semakin berkurang.

"Alhamdulillah sekarang di desa kami sudah berkurang sampah yang berserakan di sungai, di pekarangan, dan di tepi jalan," ujar Sumanto saat ditemui di TPS3R Desa Grantung.

Ia mengatakan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari keterlibatan masyarakat yang mulai terbiasa membuang sampah melalui sistem pengelolaan yang disediakan TPS3R.

Berhadapan dengan Sampah Rumah Tangga

Relawan TPS3R, Kuswanto, mengaku pekerjaan mengelola sampah bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga membutuhkan kesiapan mental. Pada awal bergabung, dirinya sempat kesulitan ketika harus menangani limbah rumah tangga berupa popok sekali pakai yang bercampur dengan sampah lainnya.

"Kebanyakan sampah pampers. Awal mula saya terjun ke kegiatan ini kami sempat mual mengevakuasi sampah pampers karena belum terbiasa. Sekarang kami sudah tidak jijik lagi," ungkap Kuswanto.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang harus dijalani agar pelayanan pengelolaan sampah kepada masyarakat tetap berjalan.

Incinerator Rusak, Sampah Residu Menumpuk

Di balik kondisi TPS3R yang terlihat bersih dan tertata, fasilitas utama justru mengalami kerusakan. Tungku pembakaran (incinerator) yang digunakan untuk memusnahkan sampah residu tidak lagi berfungsi setelah mengalami kerusakan pada bagian kerucut dan atap pelindungnya.

"Kerusakan tungku pembakar sampah akibat pembakaran barang bukti rokok ilegal oleh Bea Cukai dari Purwokerto. Sekitar satu ton dibakar memakai tungku itu. Waktu itu disiram solar, jadi apinya sangat besar hingga menghanguskan atap. Sejak saat itu tungku belum bisa dipakai lagi. Sekarang kami terpaksa membakar sampah warga secara konvensional," jelas Sumanto.

Akibat kerusakan tersebut, sampah residu yang tidak memiliki nilai ekonomis terus menumpuk di belakang TPS3R karena proses pemusnahan tidak lagi berjalan optimal.

Upah Maksimal Rp400 Ribu dan Sering Terlambat Cair

Kesejahteraan para relawan masih menjadi persoalan utama. Kuswanto mengaku penghasilan yang diterimanya sebagai relawan hanya sekitar Rp400 ribu per bulan, itu pun apabila anggaran operasional telah tersedia.

"Sebulan paling Rp400 ribu, ya kalau cair anggarannya," ujarnya.

Sumanto menambahkan, pembayaran operasional dari sebagian warga sering kali mengalami keterlambatan. Meski demikian, pelayanan pengangkutan sampah tetap dilakukan tanpa menghentikan aktivitas.

"Walaupun tidak pasti kami mendapatkan uang operasional, kami tetap mengambil sampah warga. Ada satu RT dengan sekitar 25 kepala keluarga hanya memberi Rp40 ribu. Bahkan pernah satu RT baru memberikan uang operasional Rp400 ribu setelah delapan bulan. Tapi kami tetap menjalankan kegiatan ini," katanya.

Untuk menjaga semangat para relawan, Sumanto mengaku setiap hari mengeluarkan sekitar Rp10 ribu dari dana pribadi untuk membeli makan siang bagi lima orang yang bertugas di TPS3R.

Harapan terhadap Dukungan Sarana

Selain melayani sampah rumah tangga warga Desa Grantung, TPS3R juga menerima sampah dari warung, rumah makan hingga dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Sumanto, tidak semua pihak memberikan biaya operasional, namun pelayanan tetap dilakukan.

"Saya hanya berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait bisa lebih memperhatikan persoalan sampah ini. Tidak banyak orang yang mau bergelut dengan sampah. Saya hanya ingin punya mesin press dan tungku pembakar diperbaiki agar sampah tidak terus menumpuk," ujarnya.

Untuk menopang operasional, Sumanto sebelumnya juga pernah membudidayakan maggot dan beternak kambing. Namun usaha maggot tidak berkembang karena minim pembeli, sementara delapan dari sembilan ekor kambing yang dipeliharanya dilaporkan hilang akibat pencurian. Kini ia memasang kamera CCTV dan sesekali bermalam di kawasan TPS3R untuk menjaga aset yang tersisa.

Menurut Sumanto, sebagian besar sampah yang masuk ke TPS3R saat ini merupakan limbah residu karena masyarakat telah lebih dahulu memilah sampah yang memiliki nilai jual. Kondisi tersebut membuat pendapatan dari hasil penjualan sampah semakin berkurang.

"Insyaallah masa tua setelah pensiun dari kadus saya abdikan untuk masyarakat Desa Grantung. Semoga pengabdian ini bisa menjadi teladan agar masyarakat peduli terhadap lingkungan. Saya tidak memikirkan upah yang saya terima. Yang penting Desa Grantung bersih dan merdeka dari sampah," tuturnya.

Upaya para relawan TPS3R Desa Grantung dinilai sejalan dengan semangat Program Keping Emas (Kebersihan, Pengelolaan Lingkungan, dan Masyarakat Sehat) yang pernah dicanangkan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Namun, agar pengelolaan sampah berjalan lebih optimal, kebutuhan perbaikan incinerator, penyediaan mesin press sampah, serta penguatan anggaran operasional menjadi hal yang dinilai mendesak untuk direalisasikan.</>

Posting Komentar

0 Komentar