Paguru Sunaryo Bagikan 100 Eksemplar Novel Bangsa yang Menikahi Tanah di Purbalingga

 

Paguru Sunaryo Bagikan 100 Eksemplar Novel Bangsa yang Menikahi Tanah di Purbalingga

PURBALINGGA // REALINVESTIGASI.COM — Suasana hangat penuh antusiasme mewarnai malam diskusi sastra dalam acara "Sruput Kopi Ireng" yang diselenggarakan di Perpustakaan Umum Kabupaten Purbalingga pada Jumat (9/10/2026). Dalam pergelaran yang mengusung tema "Purbalingga sebagai Pusat Peradaban Jawa" tersebut, tokoh masyarakat Purbalingga, Paguru Sunaryo, memberikan kejutan dengan membagikan 100 eksemplar novel "Bangsa yang Menikahi Tanah" secara gratis kepada para peserta yang hadir. 


​Novel karya budayawan Purbalingga, Agus Sukoco, yang diterbitkan melalui Penerbit Mata Kalam ini bukan sekadar karya fiksi, melainkan sebuah refleksi dari keresahan mendalam sang penulis terhadap realitas sosial saat ini. Berdasarkan catatan penulis, karya ini lahir dari kegelisahan melihat semakin sepinya minat masyarakat terhadap dunia pertanian. Agus Sukoco menyoroti sebuah paradoks besar: di negeri yang dianugerahi tanah begitu subur, warganya justru semakin menjauh dari panggilan untuk mengolahnya. Ia menilai fenomena ini tidak lahir begitu saja, melainkan didorong oleh sistem keyakinan (belief system) yang keliru serta berbagai kebijakan yang perlahan menjauhkan masyarakat dari tanahnya.  


​Lebih lanjut, novel ini merekam keresahan sang penulis melihat masyarakat yang rela meninggalkan sawah dan berbondong-bondong pergi dari desa menuju kota demi mengejar sesuatu yang diyakini sebagai "kemajuan hidup". Melalui karya sastranya, Agus mengajak pembaca untuk berani mempertanyakan kembali definisi kemajuan yang selama ini diterima begitu saja oleh masyarakat. Ia mengkritik makna kemajuan yang kini lebih banyak dibentuk oleh ukuran-ukuran material, di mana kota dipersepsikan sebagai tujuan utama untuk meraih kesuksesan, sementara desa perlahan dipinggirkan sebagai ruang yang tertinggal. Bagi Agus, kemajuan yang demikian telah berubah menjadi semacam ilusi yang dikejar tanpa pernah benar-benar dipertanyakan substansinya.  


​Aksi pembagian 100 buku oleh Paguru Sunaryo ini menjadi momentum penting dalam upaya membangun generasi baru di Purbalingga. Gerakan ini tidak hanya bertujuan untuk menghidupkan kembali ekosistem literasi dan ruang diskusi kreatif di wilayah Banyumas Raya, tetapi juga untuk menanamkan kesadaran kritis bagi anak-anak muda. Diharapkan, generasi penerus dapat kembali mencintai tanahnya, tidak tercabut dari akar budayanya, dan mampu merumuskan kembali makna "kemajuan" tanpa harus meninggalkan kearifan lokal desa.


​Antusiasme generasi muda yang hadir tampak jelas saat mereka menerima buku fisik dan mendapatkan kesempatan untuk ditandatangani langsung oleh Agus Sukoco di sela-sela acara. Semarak acara yang menjadi bagian dari Festival Literasi Purbalingga 2026 ini membuktikan bahwa harapan untuk mencetak generasi yang literat, kritis, dan berakar kuat pada peradaban Jawanya masih terus menyala.


Tim redaksi

Posting Komentar

0 Komentar