Cor Siklop Irigasi Kalialang Terlihat Berlubang, Pelaksana Janji Lakukan Perbaikan

Kelompok Tani (Poktan) Sri Mulya. Anggarannya bersumber dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Tahun Anggaran 2026
REALINVESTIGASI.COM, PURBALINGGA - Pekerjaan peningkatan jaringan irigasi melalui program optimasi lahan nonrawa di Desa Kalialang, Purbalingga, menjadi perhatian setelah sejumlah titik cor tipe siklop terlihat berlubang. Pekerjaan senilai sekitar Rp115 juta itu ditujukan untuk mendukung pengairan lahan pertanian seluas sekitar 25 hektare.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan (UPKK) Kelompok Tani (Poktan) Sri Mulya. Anggarannya bersumber dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Tahun Anggaran 2026.

Berdasarkan pantauan di lokasi, beberapa bagian konstruksi cor siklop tampak tidak tertutup sempurna. Sejumlah titik memperlihatkan lubang atau permukaan yang terlihat kurang padat.

Kondisi tersebut ditemukan ketika pekerjaan diketahui telah selesai sekitar satu minggu sebelumnya. Temuan fisik itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pengecoran serta proses pemeriksaan pekerjaan sebelum dinyatakan selesai.

Pelaksana Akui Ada Bagian yang Kurang Sempurna

Koordinator lapangan UPKK Poktan Sri Mulya, Trisono, mengakui terdapat bagian pekerjaan yang dinilai kurang sempurna. Namun, ia menyebut kondisi tersebut masih tergolong persoalan kecil dan dapat segera diperbaiki.

“Menurut kami itu hal kecil dan lumrah dalam pekerjaan seperti ini. Nanti akan segera kami tambal dan perbaiki,” ujar Trisono saat dikonfirmasi.

Menurut Trisono, bagian konstruksi yang terlihat berlubang akan ditambal dan diperbaiki. Langkah tersebut disampaikan setelah adanya monitoring awak media terhadap kondisi pekerjaan di lapangan.

Meski demikian, perbaikan pada permukaan yang berlubang belum serta-merta menjawab kualitas konstruksi secara keseluruhan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi tersebut hanya terjadi pada permukaan atau berkaitan dengan kepadatan dan kualitas struktur pengecoran.

Anggaran Pemerintah dan Kualitas Konstruksi

Jaringan irigasi tersebut dibangun untuk mendukung optimalisasi lahan pertanian sekitar 25 hektare. Karena itu, kondisi fisik konstruksi menjadi bagian penting agar jaringan mampu menjalankan fungsi pengairan secara optimal.

Terlebih, kegiatan tersebut menggunakan anggaran pemerintah sekitar Rp115 juta. Hasil pekerjaan perlu memenuhi spesifikasi teknis dan tujuan program sebagaimana peruntukannya.

Temuan di lapangan juga menunjukkan pentingnya monitoring dan evaluasi setelah pekerjaan selesai. Pemeriksaan idealnya tidak hanya memastikan kegiatan telah terlaksana, tetapi juga melihat kualitas fisik hasil pekerjaan.

Perbaikan pada titik yang berlubang perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan terhadap bagian konstruksi lainnya juga diperlukan untuk memastikan tidak terdapat persoalan serupa pada jaringan irigasi tersebut.

Perbaikan dan Pemeriksaan Menjadi Perhatian

Masyarakat dan kelompok tani sebagai penerima manfaat memiliki kepentingan langsung terhadap keberlanjutan jaringan irigasi. Kondisi konstruksi akan berpengaruh terhadap fungsi pengairan lahan pertanian yang menjadi sasaran program.

Apabila seluruh bagian yang bermasalah telah diperbaiki dan hasil pekerjaan memenuhi ketentuan teknis, jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat berfungsi sesuai tujuan pembangunan.

Namun, kualitas akhir pekerjaan tetap perlu dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan kesesuaian teknis. Penambalan pada bagian yang terlihat berlubang tidak dengan sendirinya memastikan seluruh konstruksi telah memenuhi standar.

Hingga saat ini, perbaikan terhadap bagian yang terlihat berlubang menjadi tindak lanjut yang disampaikan pelaksana. Kondisi akhir jaringan irigasi tersebut selanjutnya dapat dinilai berdasarkan hasil perbaikan dan pemeriksaan di lapangan.

Posting Komentar

0 Komentar