Jalan Beton Desa Bakulan Purbalingga Rusak dalam 3 Bulan

Kepala Desa Bakulan, Suyatmi, menyebut kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama selama proses pengerjaan
REALINVESTIGASI.COM, PURBALINGGA - Proyek pembangunan jalan beton di RT 12 RW 5, Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, dilaporkan mengalami kerusakan meski baru selesai dikerjakan pada Desember 2025. Jalan sepanjang 186,2 meter tersebut mulai retak di sejumlah titik, sehingga memicu keluhan warga terhadap kualitas pekerjaan.

Berdasarkan data yang dihimpun, proyek rabat beton itu memiliki lebar 3,3 meter dengan ketebalan 0,15 meter. Pembangunan jalan bersumber dari Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Tengah (Banprov) Tahun Anggaran 2025 dan dilaksanakan secara swakelola oleh masyarakat setempat.

Dari pantauan di lapangan, permukaan jalan tampak mulai mengalami retakan dan kerusakan di beberapa bagian. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa kualitas pengerjaan tidak maksimal.

Keluhan Warga Soal Kualitas

Sejumlah warga menyampaikan kekecewaan terhadap hasil pembangunan jalan tersebut. Mereka menilai kualitas jalan tidak sesuai harapan dan tidak merata di sepanjang ruas.

"Kualitas jalannya kacau, Mas. Yang mengerjakan memang warga sini, yang pegang proyek Kadus Tomo dan Manda selaku bendahara desa. Sebenarnya warga mengusulkan pakai beton ready mix, tapi tidak digubris. Ketebalan dan lebar memang sesuai, tapi kualitasnya kurang bagus," ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga lain juga menyebut adanya perbedaan kualitas di beberapa titik pekerjaan.

"Yang di titik nol sampai beberapa meter masih lumayan bagus. Tapi ke sana-sana kurang bagus. Sepertinya pasirnya kurang bagus, banyak lumpurnya. Yang mengerjakan di bagian sana juga bukan tukang," katanya.

Keterangan Pemerintah Desa

Bendahara Desa Bakulan, Manda, membenarkan adanya proyek rabat beton tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengerjaan dilakukan secara swakelola oleh warga sekitar.

"Iya benar ada pekerjaan rabat beton dari Banprov. Pengerjaan swakelola oleh warga sekitar, namun untuk pengadaan material dari pihak sana. Untuk keterangan lebih lanjut bisa ditanyakan ke tim pengelola, Kadus Tomo," jelasnya.

Kepala Desa Bakulan, Suyatmi, menyebut kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama selama proses pengerjaan. Ia mengatakan proyek dikerjakan saat intensitas hujan cukup tinggi.

"Saat pengerjaan berlangsung, intensitas hujan tinggi. Selain itu, pasir yang datang juga sepertinya kurang bagus. Di sisi lain, kami juga dikejar deadline akhir tahun sehingga pekerjaan harus segera selesai," ungkapnya.

Klarifikasi Pengelola Proyek

Kepala Dusun sekaligus pengelola kegiatan, Sutomo, membantah bahwa pekerjaan dilakukan secara asal-asalan. Ia menegaskan bahwa faktor cuaca menjadi kendala utama di lapangan.

"Bukan asal-asalan, Mas. Kita terkendala intensitas hujan yang tinggi, bahkan bisa dibilang setiap kerja terganggu hujan. Ketika hasil kerja sudah hampir selesai, lalu terguyur hujan deras. Kami sudah berusaha meminta penutup atau plastik standar, tapi tidak disediakan karena tidak ada dalam anggaran RAB," ujarnya.

Ia juga mengakui adanya keterbatasan tenaga kerja berpengalaman selama proses pengerjaan berlangsung.

"Untuk tenaga kerja, kami memang kesulitan mencari tenaga profesional lokal. Mereka lebih memilih bekerja di proyek perumahan. Saat itu juga warga sedang sibuk di sektor pertanian sawah, jadi sulit mencari pekerja yang biasa di bidang konstruksi," katanya.

Meski demikian, pihaknya mengklaim telah berupaya maksimal menyelesaikan pekerjaan sesuai kemampuan yang ada.

"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar pekerjaan selesai. Namun kondisi dan waktu pelaksanaan memang tidak memungkinkan untuk hasil yang sempurna," tambahnya.

Evaluasi dan Perbaikan

Seorang praktisi konstruksi menilai kerusakan dini pada jalan beton umumnya disebabkan oleh mutu material dan metode pengerjaan yang tidak sesuai standar teknis. Faktor seperti campuran beton, kualitas agregat, serta proses perawatan beton (curing) menjadi penentu utama ketahanan jalan.

"Kalau dalam waktu tiga bulan sudah rusak, itu indikasi kuat mutu beton tidak tercapai. Bisa karena campuran tidak sesuai, agregat seperti pasir mengandung lumpur, atau proses curing yang tidak maksimal. Selain itu, penggunaan tenaga kerja yang bukan ahli juga berpengaruh terhadap kualitas akhir," jelasnya.

Sutomo menyatakan pihaknya telah melakukan perbaikan di sejumlah titik sebagai bentuk tanggung jawab.

"Sebagai evaluasi, saya secara pribadi sudah mencoba memperbaiki titik-titik yang tidak sempurna, dengan menambal dan meratakan permukaan yang perlu diperbaiki pada hari Rabu, tanggal 8 kemarin," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga berharap adanya evaluasi menyeluruh dari pihak terkait, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, agar pembangunan infrastruktur ke depan lebih berkualitas dan tahan lama.

Posting Komentar

0 Komentar